Tampilkan postingan dengan label artikel perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel perikanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Prospek Cerah Budidaya Kepiting di Tanah Air

Budidaya kepiting sangat prospektif untuk di kembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Selama wilayah tersebut memiliki lahan tambak air payau. Wilayah Sulawesi Selatan misalnya. Yang luas lahan tambak air payaunya kurang lebih 150.000 ha.
Dengan garis pantai sepanjang 2500 km yang tepinya ditutupi hutan mangrove ini sangat potensial menjadi lahan budidaya, baik kepiting bakau maupun rajungan. Selain itu, salah satu faktor pendukung budidaya di Sulsel yakni tersedianya bibit yang cukup memadai.
Dari hasil kajian yang dilakukan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005, terungkap bahwa kabupaten Wajo, terutama di kecamatan Keera adalah salah satu daerah penghasil bibit kepiting bakau.
Bibit kepiting dari daerah ini banyak terdistribusi ke berbagai sentra produksi yang melakukan budidaya kepiting. Upaya penyediaan bibit dari hatchery pun sudah mulai digalakkan. Baik kepiting bakau maupun rajungan telah berhasil dibenihkan secara buatan, meskipun disana sini masih perlu disempurnakan untuk dapat menyamai keberhasilan pembibitan udang yang telah berlangsung lama.
Di desa Pallime, daerah yang menjadi indikator perkepitingan Sulawesi Selatan, budidaya kepiting bakau di tambak umumnya masih dilakukan secara sederhana tanpa sentuhan teknologi. Bibit kepiting ditebar di tambak atau sawah kemudian dibiarkan begitu saja tanpa atau dengan suplai pakan seadanya.
Makanan kepiting pada pembesaran sederhana ini hanyalah ikan-ikan liar yang ikut masuk ke dalam tambak atau tanaman-tanaman air yang tumbuh secara tidak sengaja atau daun-daun bakau yang terjatuh ke dalam tambak.
Akibatnya, tingkat kematian atau yang kabur dari tambak cukup besar, yakni sekitar 50%. Namun demikian, petani masih dapat meraup keuntungan yang cukup lumayan. Jadi bisa dibayangkan bila budidaya kepiting itu dilakukan dengan sistem semi atau full intensif maka bisa dipastikan pembudidaya kepiting akan semakin banyak mendapatkan rejeki.
Biasanya, setiap hektar tambak dapat ditebari 1000 ekor bibit dengan ukuran lebar karapas 4-6 cm yang dibeli dari nelayan pengumpul seharga Rp.350 – 500. Setelah 3 – 4 bulan pemeliharaan, kepiting sudah mencapai ukuran minimal 250 g (size 4, empat kepiting per kilogram).
Untuk ukuran tersebut, kepiting laku dijual di kalangan pengumpul seharga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kg. Jadi dengan modal kurang lebih Rp 500 ribu, petani dapat meraup hasil kurang lebih Rp 6 juta.

Sabtu, 19 Januari 2013

Suatu Cara Menanam Lumut

Beberapa waktu yang lalu ada rekan yang memberitahu bahwa beberapa tanaman lumutnya mengalami kekeringan & mati. Mungkin kejadian ini juga pernah dialami oleh yang lainnya. Selama ini berbagai cara menanam lumut di pot telah penulis lakukan, berikut ini akan dibagikan sedikit tips cara menanam lumut, semoga cocok dan bermanfaat bagi yang menginginkan.
Bahan & alat yang dibutuhkan:
  1. Tempat tanam (bisa pot);
  2. Moss;
  3. Pasir vulkanik yang diayak halus;
  4. Campuran tanah, humus & pupuk organik;
  5. Ayakan pasir;
  6. Kuas sedang;
  7. Lumut yang akan ditanam.
Cara:
  1. Tempat tanam (pot) diberi moss dengan rata minimal 1 cm dan tergantung kebutuhan. Moss ditebar di paling dasar dengan tujuan untuk menjaga sediaan air & menjaga kelembaban;
  2. Di atas moss ditaburi lapisan pasir vulkanik secara merata;
  3. Kemudian di atasnya dilapisi dengan media tanam lumut yang berupa campuran tanah, humus & pupuk organik yang sudah dihaluskan;
  4. Bentuk media tanam sesuai kontur yang diinginkan;
  5. Siram media tanam yang telah berkontur dengan air bersih menggunakan sprayer halus secukupnya guna melekatkan lumut yang hendak di tanam;
  6. Tanam lumut dengan cara menempelkannya pada media berkontur TANPA DITEKAN ke atas media sesuai tempat & bentuk yang diinginkan;
  7. Sedikit tekan sisi-sisi luar setiap potongan lumut menggunakan ujung-ujung jari tangan agar lebih menempel pada media tanam;
  8. Taburi sambungan-sambungan antar potongan lumut dengan pasir vulkanik yang telah diayak halus secara merata;
  9. Pasir yang telah ditaburkan kemudian dicocok menggunakan kuas halus ukuran sedang agar lebih mampu mengisi rongga-rongga kosong sambungan maupun ruang antara potongan lumut dengan media;
  10. Semprot lumut yang baru saja ditanam menggunakan sprayer halus secukupnya;
  11. Bersihkan wadah tanam (pot) dari kotoran, tempatkan di posisi yang mampu memberi suhu 16-27⁰ celcius dan kelembaban serta sinar yang cukup;
Lumut yang ditanam dalam pot siap mempesona.

Minggu, 30 Desember 2012

Red Dragon (Arwana) - Si Raja Ikan di China !!

The Red Dragon fish, also known as Arowana, is considered a good luck charm, in Chinese culture, and sells for unbelievably high prices.


The Arowana is an amazing fish that grows up to a meter in length, and can live up to 25 years. But it’s not these traits that make it so popular among China’s rich and famous, but its resemblance to a dragon. As you may know, Chinese people consider themselves descendants of dragons, and many of them would pay big money, to own their very own dragon. The older the fish, the more expensive it is, kind of like a good wine.

Red Dragon fish are believed to bring good luck and prosperity to their owners, and some people pay as much as $8,000 to own one. Most Arowana owners prefer to keep them in secret locations, away from prying eyes, where no one else can enjoy the good fortune they bring.

The red-gold coloring and the name “Dragon” have made the Arowana fish a sought after social symbol, and have brought the species to the brink of extinction.

Translate : Terjemahan : 
Ikan Red Dragon, juga dikenal sebagai arwana, dianggap sebagai daya tarik keberuntungan, dalam budaya Cina, dan menjual dengan harga luar biasa tinggi.

Arwana merupakan ikan yang menakjubkan yang tumbuh hingga panjangnya satu meter, dan dapat hidup sampai 25 tahun. Tapi itu bukan sifat-sifat yang membuatnya begitu populer di kalangan China yang kaya dan terkenal, tetapi kemiripannya dengan naga. Seperti yang Anda ketahui, orang-orang Cina menganggap diri mereka keturunan naga, dan banyak dari mereka akan membayar uang yang besar, untuk memiliki naga mereka sendiri. semakin tua Ikan itu, semakin mahal harganya, seperti anggur dengan kualitas baik.

Ikan Red Dragon yang dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi pemiliknya, beberapa orang membayar sebanyak $ 8.000 untuk 1 ekor ikan. Kebanyakan pemilik arwana lebih memilih untuk menjaga mereka di lokasi rahasia, jauh dari mata, di mana tidak ada orang lain yang bisa menikmati nasib baik yang mereka bawa.

Warna merah-emas dan nama "Naga" telah membuat ikan arwana banyak dicari setelah simbol sosial, dan telah membawa spesies ke ambang kepunahan. 





Minggu, 11 November 2012

Meningkatkan Mutu Genetik Ikan Nila Merah

Popularitas budidaya ikan nila dari waktu ke waktu tidak pernah surut. Hal ini seiring pula dengan permintaan ikan nila yang selalu saja ada dan tidak pernah berhenti. Salah satu konsumen ikan nila adalah restoran atau rumah makan yang menyajikan masakan dari ikan nila. Namun sangat disayangkan gairah budidaya ikan nila ini sering tidak memperhatikan faktor genetik dan kualitas bibit yang ditebar, akibatnya pertumbuhan nila budidaya menjadi lambat dan tidak mendatangkan keuntungan. Karena itulah perbaikan mutu genetik ikan nila menjadi salah satu konsen dari BAT (Budidaya Air Tawar ) Cangkringan sleman Yogyakarta.


Berlokasi di kawasan sejuk di Kaki Gunung Merapi, tepatnya di Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Yogyakarta, BAT Cangkringan terus melakukan uji genetik Ikan Nila merah secara terus menerus. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bibit Nila Merah yang berkualitas baik dan dapat menguntungkan jika dibudidayakan.

Proses memperoleh strain nila yang berualitas baik diambil dari beberapa strain nila yang sudah ada yang dikawinsilangkan kemudian anakannya diambil sample untuk disilangkan kembali dengan strain yang lain. Proses ini dilakukan bahkan sampai dengan Keturunan ke 5 (F5). Setiap tahap selalu diukur dan dicatat pertumbuhannya secara teliti. Proses inilah yang membuah mahal harga bibit ikan nila berkualitas.

Calon Indukan Nila Merah Cangkringan

Selain itu masih ada tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan bibit nila merah berkualitas bagus, yaitu anakan dari hasil dari persilangan yang dianggap baik akan ditebar dibeberapa daerah yang berbeda dengan kondisi geografis dan air yang berbeda. Misalnya saja untuk BAT Cangkringan akan menebar benih ke wilayah-wilayah lain seperti Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul dan lain-lain. Jika di beberapa daerah berbeda itu ternyata menghasilkan pertumbuhan yang baik maka bibit nila tersebut dianggap sudah cukup baik.

Menurut salah seorang staf BAT Cangkringan saat ini sudah diperoleh indukan nila merah yang berkualitas bagus hasil persilangan dan penelitian selama bertahun-tahun. Meski Untuk strain nila hasil BAT Cangkringan saat ini memang belum diberi nama karena masih harus ada beberapa tahap uji genetis yang perlu dilakukan. Uji ini melibatkan pula pihak Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Untuk mudahnya saat ini nila hasil rekayasa BAT Cangkringan ini diberi nama Nila Cangkringan.

Indukan ikan nila merah Cangkringan atau calon indukan ini biasanya dijual kepada pembudidaya dalam bentuk paket misalnya saja satu paket berisi 100 pejantan dan 300 betina. Namun anda harus memesan terlebih dahulu jauh-jauh hari sebelum membeli, karena ternyata peminatnya cukup besar.

Jumat, 09 November 2012

TEKNIK PEMELIHARAAN BUDIDAYA BELUT DI AIR BERSIH

TEKNIK PEMELIHARAAN BUDIDAYA BELUT DI AIR BERSIH




Tehnik Pemeliharaan
Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan sempitpun dapat memelihara belut. Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama. Disisi lain kita juga memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan pencatatan analisa usaha dalam melakukan Budidaya belut.

Pemilihan Bibit
Bibit belut yang paling bagus untuk di budidayakan adalah bibit yang di hasilkan dari hasil budidaya (pembenihan sendiri), walau bibit hasil tangkapan masih tetap bisa hidup dan bisa di besarkan di air besih. Tetapi jika dalam cara penangkapannya tidak benar, belut bisa lama jika dibesarkan karena mengalami stres sehingga kita harus mengadaptasinya terlebih dahulu dengan waktu yang cukup lama (tergantung tehnik perawatannya), kalau tehnik perawatannya salah, belut hasil tangkapan tersebut bisa mengalami kematian.
sumber
http://belut.yolasite.com/budidaya-belut/teknik-pemeliharaan-budidaya-belut

Seperti contoh bibit belut yang di hasilkan dengan menggunakan setrum : cara penangkapannya dengan Voltase terlalu tinggi, untuk pengadaptasianya bisa mencapai 1 bulan bahkan bisa lebih dan jika dalam Proses pengaptasian salah, bisa mengakibatkan kematian pada waktu pemeliharaan.

Jika dalam waktu menangkapnya (belut) dengan menggunakan alat setrum, apabila stik strum mengenai badan belut, belut tidak akan bisa tahan hidup lebih lama.

Belut hasil setruman akan tetap bisa hidup dan bisa dibesar di air bersih jika cara penangkapannya dengan tehnik yang benar misal: Voltase strum tidak terlalu besar, stik strum tidak mengenai badan belut, waktu penyetruman, tidak terlalu lama (belut tidak sampai kaku) dan Belut yang kita ambil dari tanah/lumpur yang subur itu juga sangat berpengaruh.

Ciri-ciri bibit belut hasil Setruman antara lain: Pada bagian dubur berwarna kemerahan, pada bagian insang juga berwarna kemerahan. jika stik setrum mengenai badan belut, pada badan belut tersebut dalam waktu 2 hari atau lebih akan timbul luka seperti koreng dan lama-lama belut akan mati.


Ciri-ciri Bibit Belut

Tidak semua bibit belut bila kita pelihara akan bisa besar, adapun ciri-ciri balut yang bisa besar dan tidak bisa besar bila kita budidayakan antara lain:
Bibit belut yang warna hitam dari kepala sampai ekor , bibit ini tidak bisa besar.
Bibit belut yang berwarna kemerah-merahan terang disekujur tubuhnya,bibit ini tidak bisa besar.
Bibit belut yang berwarna hitam dan panjang, lambat pertumbuhannya atau kemungkinan tidak bisa besar walau lama dipelihara.
Bibit belut warna hitam kepala lebih besar (tidak proporsional) tidak baik untuk dibudidayakan karena tidak bisa besar. Bibit ini kalau dipegang terasa agak keras.
Bibit belut yang berwarna abu-abu paling besar seukuran jempol tangan namun perkembangannya sangat lambat.

Bibit yang berwarna dominan coklat dan kehijau-hijauan seluruh tubuhnya,bibit ini bisa besar bila di budidaya dan Bibit ini kebanyakan di dapat dari sawah
Bibit belut yang dominan warna "coklat bening" dan totol-totol hitam sangat bagus untuk dibudidayakan karena cepat besar dalam waktu singkat.

Bibit yang paling bagus, warna rata-rata punggung kuning kecoklatan dan ada batikannya di bagian ekor, Di bagian Kepala ada "coretan-coretan" warna kuning, dada berwarna kuning / oranye. bibit ini bisa mencapai ukuran sebesar pergelangan tangan orang dewasa.
Namun bibit belut yang sudah kita yakini termasuk jenis belut yang bisa besar dan sudah memiliki ciri-cirinya, khusus untuk bibit belut yang di hasilkan dari tangkapan alam, bahwa sanya belut tersebut ada yang tetap tidak mau besar bila kita budidayakan baik di media lumpur ataupun di media air bersih. Akan tetapi mereka(belut) diperoleh ada dari sawah yang subur dan tidak subur atau kurang subur , bisa jadi yang berwarna kuning pun,ada yang Kuntet, karena bibit belut tersebut hidup di areal persawahan yang tidak banyak cacing Lor sawahnya.Sehingga pertumbuhannya terganggu. Dan ini ditunjukkan dengan banyak ditemukannya bibit seukuran Finggerling atau jari kelingking sudah matang gonad (perutnya sudah banyak mengandung butiran telur yang berwarna kuning), Kalau mereka sudah mengeluarkan telurnya, lalu kita tangkap untuk dipelihara, bisa jadi Tidak Bisa Membesar walupun sudah dipelihara selama lebih dari 4 bulan, akan tetapi masih bisa bertelur, karena fa’al tubuhnya sudah mendukung (dewasa) matang gonad walaupun badannya kecil.Karena lingkungannya kurang Gizi(kurang asupan makanan cacing lor dll).

Proses Karantina
Karantina sepertinya merupakan sebuah kosa kata yang cukup popular di kalangan para pemelihara atau pembudidaya belut maupun jenis ikan lainnya, sebelum berbicara lebih jauh tentang ini, mungkin lebih baik kita memahami apa maksud dan tujuan dari karantina itu sendiri.

Karantina boleh disebut juga sebagai suatu kegiantan untuk mengisolasi atau memisahkan sesuatu dari lingkungan tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu.

Dalam hal pemeliharaan atau pembudidaya, kita melakukan karantina dengan tujuan untuk menjaga agar belut yang akan kita budidayakan sudah benar-benar sehat atau tidak terjangkit penyakit tertentu yang dibawa oleh bibit belut yang akan kita tebar.

Latar Belakang
Yang banyak terjadi di kalangan pembudidaya belut terutama pembudidaya pemula adalah kurang paham benar apa yang menjadi maksud dan tujuan karantina untuk memaksimalkan hasil karantina tersebut.
Sebelum berbicara lebih jauh akan maksud dan tujuan karantina alangkah baiknya kita untuk terlebih dahulu memahami latar belakang dari kegiatan ini.

Setiap mahluk hidup, hidup di komunitas / lingkungan mereka masing – masing, dan setiap komunitas hidup antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama.

Antara lingkungan yang satu dengan yang lain mempunyai banyak perbedaan, walaupun juga memiliki kesamaan. Sedangkan mahluk hidup sendiri mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkunngan hidupnya.

Untuk lebih memahami kita ambil contoh manusia. Seorang petani yang menanam padi disawah tidak merasa gatal walaupun seharian berendam di lumpur yang basah dan kotor, akan tetapi seorang pekerja kantoran yang mencoba membantu petani menanam padi di sawah, merasa gatal – gatal pada kulitnya bahkan sampai menderita iritasi.

Begitu juga anggota keluarga petani keesokan harinya perut mereka merasa kurang nyaman karena pada malam sebelumnya makan makanan yang dibawa oleh “ si pekerja kantoran “.

“ Si Petani “ sendiri karena tidak punya makanan tetap makan makanan “Si Pekerja Kantoran” dan lama – lama terbiasa.

Begitu juga petani yang bermalam di rumah pekerja kantoran, keesokan harinya sakit demam karena semalaman tidur di kamar yang menggunakan AC ( Air Conditioning ).

Begitu juga anggota keluarga “ si pekerja kantoran “ tertular penyakit kulit karena menggunakan handuk mandi yang pernah digunakan petani tersebut.

Kalau kita menyimak ilustasi diatas mungkin kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

• Setiap mahluk hidup dapat menyesuaikan atau beradaptasi terhadap lingkungannya.

• Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan setiap mahluk hidup bisa mengalami “ganguan”
• Setiap mahluk hidup dapat menjadi sarana ( carrier ) “penyakit” terhadap lingkungan barunya.
• Mahluk hidup yang sehat belum tentu tidak mengandung “ bibit penyakit “.
• Apabila mahluk hidup dapat menyesuaikan dengan lingkungannya berarti mahluk tersebut sudah memiliki kekebalan ( imum ) terhadap “ penyakit di lingkungannya “.


Jadi meskipun bibit Belut yang baru didatangkan sudah kelihatan sehat belum tentu bebas dari bibit penyakit. Demikian juga belut yang sudah ada di kolam kita belum tentu bebas dari bibit penyakit walaupun belut tersebut sehat.

Mungkin dari gambaran diatas kita sedikit bisa memahami langkah – langkah untuk melakukan kegiatan karantina.

Tujuan
Yang seharusnya menjadi tujuan dari karantina adalah untuk menjaga agar belut yang telah kita miliki tidak tertular bibit penyakit yang mungkin dibawa oleh belut yang baru.
Selain itu maksud dan tujuan karantina adalah untuk menyesuaikan lingkungan hidup belut yang baru dengan lingkungan asal sehingga bila belut yang baru kurang dapat beradaptasi dan mengalami gangguan tidak menjangkiti belut yang lainnya atau yang sudah kita miliki.

Kegiatan Karantina.
Apakah setiap bibit belut baru wajib karantina ???

Karantina/Pengadaptasian
- tidak semua belut mudah meyesuaikan dengan lingkungan baru (media air bersih) terutama belut yang dihasilkan dari hasil tangkapan alam.

- Biasanya belut tertentu akan mengalami “gangguan” sebelum dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
- Belut mudah stress bila berubah lingkungan hidupnya sehingga mudah terserang penyakit karena sistim imum tubuhnya menurun.


Janglah karantina yang ideal sebenarnya membutuhkan proses yang cukup detail yang seolah – olah sangat rumit padahal tidaklah demikian, asal kita dapat memahami “ tehniknya”.

Langkah karantina yang ideal, dimulai pada saat kedatangan belut Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah meyiapkan tempat karantina yang memadai baik luas maupun volume tempat karantina tersebut, yang sebelumnya sudah kita isi dengan air kolam yang rencananya akan kita gunakan untuk pemeliharaan belut tersebut.

Apakah harus ? tidak , dengan mengisi tempat karantina dengan sumber air yang sama dengan kolam yang rencananya akan kita gunakan untuk memelihara belut tersebut sudah cukup memadai bila sumber air yang digunakan bukan air PDAM/PAM, bila memakai air PDAM/PAM hendaknya ditreatment terlebih dahulu.

Salah satu Tehnik Proses karantina sekaligus adaptasi yang sudah saya terapkan, bibit belut yang dihasilkan dari tangkapan alam (setrum atau sedek)

Untuk kolam/tempat karantina , sebaiknya "jangan" ada yang berbentuk sudut/menyiku, kolam yang kita siapkan harus berbentuk bundar ataupun lonjong, kolam karantina bibit belut air bersih "tidak" usah terlalu besar dan untuk bibit yang kita masukan kedalam kolam karantina Volumenya harus diperpadat, kepadatan dalam proses karantina adalah sangat berpengaruh penting. Ketinggian air pada kolam karantina 10 sampai dengan 15 dari permukaan belut yang kita masukan.

Bila tempat karantina sudah siap, belut yang masih berada di wadah pengangkutan airnya harus di ganti terlebih dahulu untuk menghilangkan lendir yang berada di dalam wadah pengangkutan, lalu masukkan belut tanpa lendir/busa.Untuk pemindahan bibit belut dari wadah pengangkutan, sebaiknya dilakukan dengan sehati-hati mungkin, gunakanlah alat seperti jaring (serok) usahakan bibit jangan sering dipegang dengan tangan secara langsung biar belut tidak stress.

Setelah belut tenang, Langkah berikut adalah pada tempat karantina diberi kocokan telur ditambah dengan madu supaya bibit cukup Vitamin dan energi, kemudian tambahkan perasan daun pepaya dengan harapan untuk mengembalikan lendir yang sudah banyak dikeluarkan belut selama dalam pengangkutan.
Setelah satu jam kemudian kuraslah air dan di ganti dengan air yang baru.

1 sampai 2 hari, bibit belut jangan di beri pakan terlebih dahulu, setelah 2 hari kemudian, pemberian pakan baru dilakukan sampai bibit belut benar-benar sudah sehat.
Ciri-ciri bibit belut yang sudah siap ditebar di kolam pembesaran (media air bersih), belut sudah tidak ada yang mendongakan kepalanya keatas (permukaan air). Apabila masih ada bibit belut yang mendongakan kepalanya keats dan sudah membalikan badannya segeralah diambil, pisahkan dengan bibit yang sudah sehat.


CATATAN : pada waktu proses karantina dilakukan, air harus dalam keadaan jernih (bening), tidak boleh keruh.
biofish fishtamin (vitamin complex)


Namun Bila bibit belut yang kita dapatkan dari hasil budidaya, untuk proses karantina/adaptasinya tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 1 hari atau 2 hari, bibit sudah siap kita tebarkan di kolam pembesaran media air bersih (air bening) tanpa lumpur.

Tata Cara Perawatan
Setelah proses karantina/adaptasi dilakukan dengan benar, masukan bibit kekolam pembesaran dan kemudian lakukan perawatan.

Pakan dan Pengaturan Air

Meskipun sudah banyak ilmuwan-ilmuwan dan peneliti berpendapat "Waktu pemberian pakan pada belut adalah sore menjelang malam, karena belut aktif pada malam hari" namun dalam budidaya belut di air bersih yang sudah kami terapkan pemberian pakan bisa dilakukan dalam sehari semalam 3 kali (pagi,siang dan sore hari) dengan dosis 5% dari jumlah benih yang ditebar.

Pemberian pakan bisa dilakukan 3 kali dalam sehari semalam kalau kita sudah memenuhi unsurKENYAMANAN bagi belut itu sendiri.

Sedangkan faktor kenyamanan terdiri faktor internal dan eksternal

1. Faktor internal.
Media harus tersedia yaitu. Substrat ( paralon, atau genteng, roster, eceng gondok maupun kiambang, dsb)
Faktor Oksigen. (sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dan nafsu makan, sekaligus kelangsungan hidup) Khusus Untuk budidaya air bersih, faktor oksigen sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan daya nafsu makan belut). Air menjadi syarat utama kolam pemeliharaan belut, karena itu lubang sirkulasi air dan lubang pembuangan kelebihan air menjadi syarat utama. Air harus terus mengalir walau dalam jumlah debit yang sangat kecil dari sumber air agar oksigen terlarut tetap terjaga persediaannya
2. Faktor Eksternal.
Faktor eksternal adalah suasana Gelap dan tenang. ( Gelap berarti tempat harus ditutup dengan terpal hitam atau coklat, tidak boleh warna terang atau tembus cahaya, Tenang berarti tidak boleh ada aktifitas lain di lingkungan budidaya)
Pakan, pemberian pakan bisa di lakukan dalam sehari semalam 3 kali bisa berjalan apabila Faktor eksternal dan internal terpenuhi.

Untuk menambah nafsu makan belut dapat diberikan jamu empon-empon, bahan-bahan bakunya seperti "temulawak (curcuma xanthorhiza), kunyit, kencur dan temu ireng. untuk perbandingan 1,5 : 0,5 : 0,5 : 0,5 dengan cara: kesemua bahan tersebut di rebus dan kemudian di saring, setelah dingin air dari bahan-bahan tersebut di masukan ke kolam secara merata. Pemberian jamu nafsu makan sebaiknya di berikan pada sore hari kemudian pada pagi hari, air dikuras dan di ganti dengan air yang baru. Dalam waktu pemberian jamu nafsu makan tersebut, belut jangan diberi pakan terlebih dahulu sebelum pengurasan dilakukan.


Air Pemeliharaan
Lendir yang dikeluarkan belut memang menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar tubuhnya tetap licin sehingga dapat membantu gerak belut dan menjadi sarana melepaskan diri dari musuh-musuhnya. Namun, dalam pemeliharaannya, lendir belut yang terus menerus dikeluarkan dalam jumlah yang banyak akan membahayakan belut itu sendiri, dari hasil penelitian mengemukakan, jika dalam air yang di gunakan untuk budidaya belut sudah terlalu banyak lendir yang dikeluarkan oleh belut itu sendiri maka air harus segera diganti maka air tersebut akan meracuni belut itu sendiri dan juga bisa mengakibatkan kematian pada belut. lendir yang sudah banyak di keluarkan juga akan sangat mempengaruhi kualitas air, terutama akan meningkatkan derajat keasaman/pH air. untuk itu, kualitas air menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Walau tidak ada persyaratan khusus, tetapi idealnya air yang digunakan sebagai media pembesaran belut harus jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta kendungan pH-nya tidak lebih dari 7.

Budidaya Belut Di Air Bersih
Tekhnik Terbaru, Budidaya Belut Di Air Bersih. Belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di air Bersih (air bening) tanpa lumpur ini adalah hal yang sangat luar biasa, ini bener-bener ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita khususnya para pembudidaya belut, sehingga kita bisa lebih effisien dalam melakukan usaha ini. Dengan adanya tehnik terbaru ini sehingga para pembudidaya belut sudah tidak pusing-pusing mencari "debog pisang, jerami, lumpur dan lain-lain, kita sudah tidak repot lagi untuk melakukan bokasi dan menfermentasikan-nya.

Ini bukan penampungan dan bukan hasil rekayasa tetapi bener-bener hasil budidaya. Tempat hidup alami belut (Monopterus albus) yang tinggal di dalam lumpur. Banyak orang, baik penelitian atau usaha, yang sudah mencoba membikin lumpur untuk usaha budidaya. Mungkin beberapa yang berhasil meskipun kebanyakan yang lainnya masih bergelut dengan ‘teknologi doa’ untuk panen. karena hidup di dalam lumpur, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memastikan jumlah serta perkembangan belut selama masa pemeliharaan. sehingga, sangat layak bila kemudian mencoba berinovasi: "Budidaya Belut Di Air Bersih (air bening) tanpa lumpur"


Dalam hipotesis: mungkin belut bisa hidup dan dibesarkan pada air bersih tapi tetap harus menggunakan lumpur untuk reproduksi alami.

Secara teknis: sejauh kebiasaan makan bisa diadaptasikan dan kebutuhan pakan bisa disuplay secara terkontrol, seharusnya pembesaran belut di air bersih dapat dilakukan. hanya saja, kontrol terhadap kemungkinan serangan penyakit akibat proses adaptasi harus benar-benar diamati dan dijaga.

Keuntungan: dengan pembesaran belut pada air bersih, jumlah (yang berkaitan dengan kelangsungan hidup) dan pertumbuhan (yang berhubungan dengan penambahan bobot) dapat selalu terkontrol sehingga target produksi bisa lebih ter-realistis dan untuk jumlah penebaran bibit belut di air bersih bisa lebih besar (bisa 10 bahkan sampai 30 kali lipat dibanding dengan penebaran benih di media lumpur).

Walau masih banyak orang yang tidak/belum percaya dengan adanya Ilmu terbaru ini (belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di 100% air bersih (air bening) tanpa lumpur, mungkin karena mereka belum pernah melihat dan belum pernah mencobanya karena belum tahu tehnik-tehnik dalam melakukan Budidaya Belut Di Air Bersih.

Sekilas Tentang Belut

Belut adalah sekelompok ikan berbentuk mirip ular memiliki bentuk tubuh memanjang, tidak bersirip dan tidak bersisik, serta memiliki lapisan lendir di sekujur tubuhnya yang termasuk dalam suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang belum diberikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu dapat berubah. Anggotanya bersifat pantropis (ditemukan di semua daerah tropika).

Belut berbeda dengan sidat, yang sering dipertukarkan. Ikan ini boleh dikatakan tidak memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang juga tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip yang jelas. Ciri khas belut yang lain adalah tubuh licin berlendir, tidak bersisik, dapat bernafas dari udara, bukaan insang sempit, tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Belut praktis merupakan hewan air darat, sementara kebanyakan sidat hidup di laut meski ada pula yang di air tawar. Mata belut kebanyakan tidak berfungsi baik, bermata kecil.

Ukuran tubuh belut bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m. Belut sawah Monopterus albus sendiri, yang biasa dijumpai di sawah dan dijual untuk dimakan, dapat mencapai panjang sekitar 1m (dalam bahasa Betawi disebut moa).

Kebanyakan belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur (tempat persembunyian). Semua belut adalah pemangsa. Daftar mangsanya biasanya hewan-hewan kecil di rawa atau sungai, seperti ikan, katak, serangga, serta krustasea kecil dan juga ada yang bersifat kanibalisme.
Spesies belut mempunyai nilai pemakan yang tinggi. Khasiatnya dikatakan setanding dengan ikan tengiri dan selar, mengandungi 18.6 % protein dan 15 % lemak. Belut juga kaya dengan lemak, kalsium, vitamin B, Vitamin D dan zat besi. Tidak heranlah banyak yang percaya belut boleh membantu mengubati penyakit seperti sakit pinggang, lelah, darah tinggi, lemah tenaga batin dan penyembuhan luka pembedahan. Spesies ikan ini jika dikonsumsi secara rutin miniman 100 gram/hari dikatakan boleh menguatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingatan dan membantu mencegah hepatitis.

Keunggulan dan Kelebihan Bidudaya Belut Di Air Bersih
Belut Mudah Dikontrol
Budidaya belut di Media Air Bersih tanpa lumpur terbilang lebih effektif dibandingkan dengan budidaya belut di media lumpur. Khususnya kemudahan dalam melakukan pengontrolan terhadap belut yang dibesarkan, selain itu jika ada belut yang terlihat sakit atau mati, akan mudah terlihat sehingga bisa segera diambil dari kolam budidaya.

Penebaran Benih Belut Lebih Banyak
Budidaya Belut dengan media air bersih memungkinkan pembudidaya untuk meningkatkan jumlah belut yang di besarkan dikolam hingga bisa mencapai 30 kali lipat per m2 di banding budidaya belut di media lumpur. Hal ini dapat di lakukan karena di media air bersih, fungsi lumpur sebagai alat perlindungan/persembunyian bagi belut, sedangkan budidaya belut di air bersih peranan tubuh belut itu sendiri bisa di jadikan tempat perlindungan/persembunyian bagi belut itu sendiri (pengganti lumpur). Dalam Budidaya belut di air bersih berdasarkan uji coba, untuk ukuran 1m2 bisa ditebar benih belut 30kg, sedangkan di media lumpur penebaran benih untuk ukuran 1 m2 hanya bisa kita tebar 1kg maksimal 1,5kg, jika penebaran melebihi angka tersebut pertumbuhan belut akan terganggu, bahkan bisa terjadi saling nyerang menyerang antar belut untuk berebut wilayah hidupnya. Sehingga tingkat kematian belut di media lumpur akan semakin tinggi.

Meminimalkan Angka Kanibalisme
Seperti binatang-binatang lainnya, belut yang dibesarkan di dalam air yang berlumpur terutama belut jantan atau belut yang sudah mencapai umur 6-8 bulan, akan memperlakukan habitat tempatnya bernaung sebagai daerah kekuasaannya. bila merasa terusik oleh belut yang lain dan daerah kekuasaannya terancam, belut tersebut akan saling serang menyerang. Hal itulah yang menyebabkan tingginya angka kematian pada belut-belut yang kita pelihara di media air berlumpur. namun, dalam hal ini tidak akan terjadi pada belut yang dipelihara di media air bersih tanpa lumpur, karena antara belut satu dengan yang lainya justru saling membutuhkan, dalam metode budidaya belut di air bersih, badan belut adalah sebagai tempat untuk saling melindungi dan sebagai tempat persembunyian.

Lebih Effisien Dan Effektif
Belut yang sudah kita kenal dengan gaya hidupnya yang selalu bersembunyi didalam lumpur yang berair. Namun hal yang sebenarnya dimana ada lobang belut yang masih ada belutnya disitu pasti akan terdapat air yang jernih. Dengan adanya hal tersebut berarti syarat hidup belut adalah di air jernih (air bersih), dan tanpa lumpurpun masih bisa hidup dan bisa dibesarkan. Budidaya belut di air bersih (air jernih) tanpa lumpur memungkinkan para pembudidaya tidak akan kerepotan karena harus mencari jerami, debog pisang ataupun lumpur sebagai medianya namun dengan budidaya belut di air bersih cukup dengan air yang jernih saja dan dalam budidaya belut di air bersih juga akan menghemat lahan karena dalam pembikinan kolam dengan media air bersih, bisa disusun menjadi 3 tingkat atau lebih. dalam pemberian pakan di media air bersih juga tidak cuma-cuma(mubadzir) karena setiap kita tebar pakannya, belut akan melihat sehingga belut akan langsung memangsanya.

Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
antara lain :
Air
Dalam Budidaya belut di air bersih, air adalah faktor utama yang sangat berpengaruh pada perkembangan belut. Jika air yang kita gunakan dalam budidaya belut tidak rutin di kontrol maka akan sangat mempengaruhi pada perkembangan belut kita.

Air yang bagaimana yang layak digunakan Budidaya belut air bersih?
air yang layak digunakan dalam budidaya belut di air bersih adalah air yang jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya.

Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih
air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah
Usahakan dalam melakukan budidaya belut di air bersih, kolam harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut dan kita juga tidak terlalu repot untuk penggatian air.

Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali, tentunya kita akan sangat kerepotan bukan? Jika air sudah kotor/keruh (warna kuning kecoklatan) air harus segera kita ganti. tapi beda dengan kotoran yang mengendap didasar kolam, walau didasar kolam sudah terdapat endapan tapi airnya masih jernih, air masih layak kita gunakan, asal endapannya tidak terlalu tebal.


Pakan
Pakan, pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat penting untuk perkembangan serta pertumbuhan belut. Berilah pakan secukup mungkin, usahakan jangan sampai kekurangan atau jangan berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut, jika dalam pemberian pakan pada belut terlalu banyak bisa mengakibatkan air cepat kotor(karena sisa makanan) dan bisa mengakibatkan effek negatif pada belut, sehingga belut mudah sakit dan lama kelamaan bisa mengakibatkan kematian. Jika pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme pada belut kita dan kita juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut masih mau makan dengan pakan tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali belut mau makan dengan pakan yang kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang kita berikan, kembalilah kepakan yang sebelumnya.

Jenis-jenis pakan belut antara lain:
cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang lainnya.
Bibit

Pemilihan bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit. Bibit yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit yang cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang diperoleh dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya, bibit seperti ini pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet). Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan berasal dari hasil budidaya. Ukurannya akan lebih seragam dan jarang terserang penyakit seperti yang mungkin terjadi pada belut hasil tangkapan alam. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk saat ini masih sangat sedikit.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas.
1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka

Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.


2. Bibit terlihat lincah dan agresif
Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati. belut yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas dengan cepat kamudian kembali kebawah lagi.

3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang
pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan.


4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu
Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan dikarantina.
Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat. Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih biarkan belut tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan madu 1 jam kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang diamkan kurang lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan.
Kepadatan (Volume)
Kepadatan penebaran bibit dalam pembesaran jenis-jenis ikan sangatlah mempengaruhi pada perkembangan pertumbuhan dan tingkat kematian, misal, dalam pembesaran jenis-jenis ikan seperti lele,gurame, nila dll, kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau pemberian pakan sudah sesuai dengan ukurannya dan juga bisa mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi.
Namun metode pembesaran Belut di media air bersih ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit jenis-jenis ikan yang lainnya, Kepadatan penebaran bibit belut sangat berperan penting pada pertumbuhan dan tingkat kematian. Kepadatan penebaran bibit belut untuk pertumbuhan, tergantung dalam proses pemberian pakan dan untuk tingkat kematian justru bisa meminimalkannya.


Mempersiapkan Pembesaran
Langkah Awal
Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan dan kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3 atau 4 bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. Karena selama ini kendala dari para pembudidaya belut baik yang menggunakan media lumpur maupun media air bersih adalah pada pemberian pakan yang tidak menentu karena mereka sebelumnya tidak mempersiapkan pakannya terlebih dahuludan hingga kini pakan yang paling disukai belut adalah pakan dari alam, walaupun sudah ada pembudidaya belut dalam pemberian pakannya menggunakan jenis pelet, namun setelah dihitung-hitung hasil analisa usahanya masih sangat minim,padahal dalam setiap usaha tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, bukan malah membuang-buang duit atau tenaga kita kan???

Banyak pembudidaya belut yang masih meremehkan hal ini dan akhirnya mereka yang akan kerepotan sendiri karena setiap hari harus mencari pakan buat belut kalau tidak, mereka harus membeli pakannya, sehingga untuk biaya operasionalnya akan semakin membengkak untuk pembelian pakan. Dengan kita memelihara pakan terlebih dahulu insyaALLOH akan mudah menghitung jumlah panen dan analisa usahanya.

Persyaratan Lokasi
Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.

Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi kolam tidak beracun.

Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-28 derajat C.
Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil.

Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga lama kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat diterima oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi ambang batas toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan airnya. Dengan demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang memungkinkan untuk penggantian atau sirkulasi air.

Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum).
Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5 meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri, karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat budiaya kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen.

Selasa, 06 November 2012

BUDI DAYA IKAN ARWANA



Ikan Arwana merupakan ikan yang berasal dari daerah subtropics dan tropis, sehingga Ikan Arwana banyak di temukan di Indonesia, Malaysia, Vietnam, Birma, Thailand. Habitatnya adalah sungai – sungai besar dengan arus yang cukup deras. Arwana yang ditangkap liar sekaran sudah sangat jarang sekali. Jumlah Budidaya Ikan Arwarna yang menurun drastic, apalagi ditunjang dengan banyaknya polusi air seperti sekarang. Arwana yang beredar sekarang dipastikan merupakan hasil dari pembibitan Budidaya Arwana & Budidaya Ikan Arwana yang dilakukan para pengusaha pembibitan yang sudah teruji mutu dan kualitas gennya. Untuk anda para hobbiis Ikan Arwana anda harus lebih berhati- hati dalam pemeliharaan.

Arwana merupakan ikan perenang atas (surface feeder), ditunjukkan oleh betuk mulut. Di alam mereka berenang di dekat permukaan untuk berburu mangsa. Arwana dapat menerima segala jenis pakan untuk ikan karnivora, tetapi seringkali mereka jadi sangat menyukai salah satu jenis pakan saja, dan menolak jenis lainnya. Sebagai ikan peloncat, arwana di alam bisa menangkap serangga yang hinggap di ranting ketinggian 1-2 meter dari permukaan air. Maka pemeliharaan dalam akuarium harus ditutup dengan baik.

Arwana merupakan ikan tangguh yang dapat hidup hingga setengah abad. Permintaan yang tinggi dengan ketersediaan alam yang terbatas menyebabkan eksploitasi di alam dibatasi. CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna)menetapkan bahwa ikan Arwana Asia sebagai ikan yang mendapat perlindungan tertinggi. Berbagai jenis Arwana Asia antara lain:

Dalam Budidaya Ikan banyak hal – hal yang sering dilupakan. dibawah ini cara pemeliharaan ikan arwana.
Parameter Air.
pH. Arwana dapat hidup pada selang pH cukup lebar. Namun disarankan agar mereka dipelihara sesuai dengan kondisi aslinya di alam yaitu pada selang pH netral sampai agak masam (pH 6.0 -7.0).

Kesadahan. Arwana berasal dari perairan dengan kesadahan rendah, oleh karena itu direkomendasikan untuk memeliharanya pada selang kesadahan ini (GH 8°). Arwana silver dapat hidup pada kisaran GH 4-10.

Temperatur. Arwana direkomendasikan untuk diperlihara pada selang suhu 26 – 30 °C. Seperti halnya jenis ikan yang lain, hindari terjadinya perubahan suhu mendadak. Perubahan suhu mendadak dapat menyebabkan shock pada ikan yang bersangkutan, dan dapat memicu berbagai masalah. Suhu terlalu tinggi untuk jangka waktu lama diketahui dapat menyebabkan tutup insang menggulung, hal ini tentu akan sangat menggangggu keindahan ikan tersebut.
Pencahayaan. Sebaiknya di area terang tanpa sinar matahari secara langsung.

Arwana bukan termasuk ikan yang sulit dipelihara, hanya perlu beberapa saat setiap hari atau beberapa jam setiap minggu untuk merawat dan mencek kondisi ikan dan lingkungannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara arwana :
Wadah

1. Kolam
Pemeliharaan induk arwana sebaiknya dilakukan di kolam. tanah. Lokasi untuk kolam perlu mempetimbangkan :

Tanah
Jenis Tanah yang baik adalah tanah Nat berlempung yang dapat menahan air dan mendukung pertumbuhan pakan alami.
Topografi
Perbedaan derajat kemiringan antara saluran pemasukan dan pengeluaran maksimal 1%.
Air
Suplai air yang memenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang dibutuhkan.
Kolam yang ideal berbentuk persegi panjang dengan ukuran minimal 10x10m2. Persiapan kolam sebelum tanam yaitu :

  • Pengeringan kolam hingga dasar retak-retak
  • Pembalikan dasar kolam, perbaikan pematang
  • Pengapuran dengan dosis 50-100 gram/m2
  • Perngisian air setinggi 100 cm
Hujan deras dapat mengakibatkan perubahan mendadak kualitas air. Untuk mencegah kematian ikan, ganti air (setelah hujan berhenti) minimal 30% dari total volume air.

Minggu, 28 Oktober 2012

TEKNIK PRODUKSI INDUK JANTAN YY IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

TEKNIK PRODUKSI INDUK JANTAN YY IKAN NILA


Penerapan teknologi Nila Jantan YY ditujukan untuk menyediakan induk nila yang dapat memproduksi benih tunggal kelamin janan secara genetis menjadi alternatif yang penting untuk mengantikan teknologi pengarahan kelamin menggunakan hormon.

Teknologi Induk Jantan YY di adopsi untuk membuat teknik produksi induk yang dapat menghasilkan benih tunggal kelamin jantan. Metodologinya memerlukan enam rangkaian proses kegiatan yang bertahap mulai dari tahap feminisasi pertama, verifikasi hasil feminisasi (Progeny Test I) dan feminisasi tahap kedua, verifikasi jantan berkromosom YY (Progeny test II) dan verifikasi betina berkromosom YY (Progeny Test III). Dua tahap terakhir adalah perbanyakan dan produksi massal induk jantan YY. Tahap Feminisasi pertama, dilakukan oleh Prof. Komar Sumatadinata dan Dr. Ratu Siti Aliah, menghasilkan induk ikan nila betina yang diduga memiliki kromosom XY yang kemudian dipelihara di BBPBAT Sukabumi sebagai implementasi kerjasama antara Dirjen Perikanan Budidaya dengan BPPT.

Verifikasi betina XY dilakukan dengan mengawinkan induk betina hasil feminisasi dengan jantan normal dan anakannya akan menetukan induk tersebut XY atau XX, tergantung nisbah kelamin (sex ratio) jantan yang dihasilkan dari identifikasi kelamin secara visual setelah berukuran dewasa. Turunan betina XY sebagian di-feminisasi kembali dan sebagian tidak di-feminisasi. Verifikasi kedua dilakukan terhadap anakan jantan turunan induk betina XY dan menghasilkan induk jantan YY. Verifikasi tahap ketiga dilakukan terhadap turunan betina XY yang di-feminisasi dan menghasilkan betina YY.

Perbanyakan dilakukan dengan memijahkan induk jantan YY dengan induk betina YY yang tidak sekerabat. Anakan hasil perbanyakan sebagian difeminisasi untuk menghasilkan induk betina YY. Induk hasil perbanyakan terdiri dari betina YY ukuran rataan 96 sampai 130 gram per ekor dan YY jantan ukuran 12-130 gram. Pada bulan Juni 2006 telah dilakukan uji produksi masal Jantan YY dengan mengawinkan Betina YY dengan Jantan YY yang tidak satu keturunan. Anakannya masih berupa benih ukuran rataan 2-3 cm.

1. PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Penggunaan benih ikan nila jantan dalam proses pembesaran merupakan pilihan pembudidaya dalam rangka peningkatan produksi melalui sistem pembesaran tunggal kelamin jantan, karena secara genetis ikan nila jantan tumbuh lebih cepat dari pada ikan betina (Contreras-Sanchez et al. 2001). Sistem pembesaran tunggal kelamin jantan lebih menguntungkan secara ekonomis, karena selain mempercepat masa pemeliharaan, juga dapat menghasilkan ukuran ikan yang besar dan seragam. Hal ini karena selama masa pemeliharaan dapat mencegah terjadinya pemijahan liar.

Benih jantan nila pada umumnya dapat diproduksi secara komersial dengan teknik pengarahan kelamin (sex reversal) menggunakan hormon Methyl Testosteron (Green et al., 1997; Abucay and Mair, 1997; Gale et al., 1999). Jenis hormon pada umumnya menggunakan hormon 17 α Methyl Testosteron (MT). Teknik secara oral banyak dipraktekan lebih luas dan komersial karena lebih praktis, mudah dilakukan dan secara signifikan dapat menghasilkan benih 100% jantan (Popma and Green, 1991).

Walaupun penggunaan hormon dalam produksi benih nila telah digunakan secara komersial, namun demikian ada kekhawatiran tentang dampak negatif terhadap hormone yang mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Pada saat ini umumnya konsumen ikan menghendaki agar ikan yang dikonsumsinya diperoleh dari hasil produksi yang terbebas dari bahan-bahan yang berbahaya. Sehingga apabila usaha budidaya ikan dalam proses produksinya menggunakan bahan hormon (hormone base aquaculture) maka produk budidaya tersebut akan sangat rawan terhadap propaganda negatif pasar. Disamping itu berdasarkan penelitian, telah ada bukti bahwa penggunaan hormon dapat mengakibatkan hasil yang paradoxial menjadi betina, terutama bila pemakaian dosis yang berlebihan atau waktu pemberian yang terlalu lama (Rinchard et al., 1999 dan Papoulias et al., 2000).

Nila Jantan Supermale adalah istilah yang diberikan kepada induk nila jantan yang memiliki kromosom homogamet YY. Sistem kromosom ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah homogamet XX untuk betina dan heterogamet XY untuk jantan (Mair et al. 1991; Trombka and Avtalion 1993). Beberapa peneliti memprakarsai untuk membuat kreasi unik membuat individu jantan yang homogamet YY. Kreasi ini mengacu kepada hipotesis bahwa individu betina yang berkromosom XX disilangkan dengan individu jantan yang berkromosom YY akan menghasilkan keturunan yang mempunyai kromosom XY. Diantaranya Yang et al. 1980; Varadaraj and Pandian 1989 melakukan uji coba pada ikan Mujaer (O. mossambicus), sedangkan Mair 1988; Baroiller and Jalabert 1989; Scott et al. 1989 melakukan uji coba pada Ikan Nila (O. niloticus). Mair et al. (1997) merekomendasikan untuk menerapkan teknologi YY supermale dalam usaha budidaya ikan nila secara komersial.

Benih keturunan jantan YY dapat disebut sebagai benih nila jantan genetic = NJG (Genetic Male Tilapia = “GMT”) berbeda dari benih jantan hasil sex reversal ( Sex-reversed Male Tilapia=SMT). Menurut Mair et al. (1997), hasil evaluasi secara menyeluruh dalam suatu uji coba sekala lapang pada lahan usaha budidaya menunjukan bahwa benih GMT telah lebih menguntungkan secara significan meningkatkan produksi lebih dari 58% dibandingkan usaha budidaya ynag menggunakan benih nila campuran. Produksi benih nila GMT juga secara konsinten lebih tinggi dari pada produksi benih nila hasil sex reversal, karena keistimewaan lain dari nila GMT ini adalah ukuran panen yang lebih seragam, sintasan yang tinggi, dan FCR paling baik (Mair et al., 1997). Keunggulan comparatif penting pada penerapan teknologi YY-supermale dalam system produksi benih monosex jantan adalah merupakan technology yang berbasis ramah lingkungan environmentally friendly tilapia monosex production (Mair et al., 1997).

Penerapan teknologi YY-supermale di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar merupakan implementasi kerja sama antara Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Institut Pertanian Bogor dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pelaksanaan penerapan teknologi di BBPBAT dimulai sejak penyerahan populasi ikan betina hasil feminisasi dari oleh Prof. Komar Sumantadinata dan Dr Ratu Siti Aliah sebagai bahan untuk menghasilkan populasi induk betina XY. Selanjutnya di BBPBAT mulai dilakukan Progeny test I pada tahun 2002 untuk memverifikasi Induk Betina berkromosom XY dan sekaligus membuat populasi betina dan jantan yang mengandung individu berkromosom YY.

1.
1. Tujuan

Penerapan teknologi YY-Supermale untuk menghasil teknik produksi induk nila yang yang bermutu yang dapat memproduksi benih tunggal kelamin jantan

1. BAHAN DAN METODA

1.
1. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari: Induk nila betina hasil feminisasi I, pakan induk, pakan benih, pakan larva, hormone 17 β Estradiol, Alkohol, aceto-carmine. Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri dari hapa dan waring ukuran (2×1x1) m3; ukuran (2×2x1) m3; ukuran (4×2x1) m3; dan ukuran (5×4x1) m3, akuarium, Aerator Hi-Blow, Water heater, tagging, mikroskop, disecting set, dan timbangan, dan alat-alat perikanan.

1.
1. Metoda

Metodologi yang digunakan mencakup feminisasi, progeny test, dan pemijahan, dan gonad-squash. Progeny test atau uji keturunan adalah teknik verifikasi berdasarkan keturunan hasil pemijahan ikan uji. Progeny test I bertujuan untuk memverifikasi induk betina XY hasil feminiasi. Progeny test II bertujuan utnuk memverifikasi induk jantan YY hasil turunan dari betina XY. Progeny test III bertujuan untuk memverifikasi induk betina YY turunan betina XY yang difeminisasi. Pada prosedur progeny test, individu induk diidentifikasi berdasarkan nisbah kelamin turunannya. Progeny test I menghasilkan induk betina XY, progeny test II induk jantan YY dan progeny test III menghasilkan induk betina YY.

Progeny test I dilakukan dengan mengawinkan satu persatu induk betina hasil feminisasi dengan jantan normal, kemudian keturunannya dipelihara sampai dewasa kelamin. Berdasarkan identifikasi kelamin secara visual, maka nisbah kelamin ditentukan pada masing-masing populasi. Bila jumlah jantan 75% maka induk populasi anakan tersebut merupakan individu betina XY. Pada saat proses progeny test I, anakan setiap individu induk yang dipijahkan dibagi menjadi dua sub populasi. Satu sub populasi di-feminisasi untuk membuat populasi betina YY, sedangkan satu sub populasi lagi dipelihara secara normal untuk verifikasi dan bahan populasi induk jantan YY .

Progeny test II dilakukan dengan mengawinkan satu persatu individu induk jantan turunan induk betina XY dengan betina normal. Anakannya dipelihara sampai usia dua sampai tiga bulan atau kira-kira ukuran 12 cm untuk diperiksa kelaminnya dengan cara menngidentifikasi gonadnya menggunakan mikroskop dan pewarnaan aceto-carmine atau Gonad squash (Guerrero. 1974). Verifikasi induk jantan YY ditentukan oleh hasil identifikasi gonad keturunannya, yakni bila turunannya terdiri dari 90% jantan maka induk jantan tersebut dikaragorikan sebagai induk jantan YY. Progeny test III dilakukan hanya pada keturunan induk induk betina hasil feminisasi turunan betina XY yang sudaranya sudah dikategorikan sebagai induk jantan YY, caranya dengan mengawinkan secara masal dengan induk jantan normal, kemudian turunan dari masing-masing induk betina dipelihara secara terpisah, terakhir dibesarkan selama dua sampai tiga bulan sampai ukuran benih mencapai 12 cm untuk diperiksa kelaminnya dengan cara mengidentifikasi gonadnya sebagaimana pada progeny test II. Apabila hasil identifikasi gonad, jumlah jantan lebih dari 90% maka induk betina tersebut digolongkan sebagai individu betina YY.

Tata cara progeny test mencakup:

* Proses Pematangan Gonad dan Pemijahan
1. Proses Pendederan
2. Proses Pemeriksaan gonad

Dua minggu sebelum pemijahan dilakukan pematangan gonad terlebih dahulu terhadap induk betina dan jantan pada bak yang terpisah. Pematangan induk jantan dilaksanakan di dalam bak bulat berdiameter 3 m dengan kedalaman air sekitar 0,75 – 1,0 m dan induk betina di bak persegi empat ukuran 0,5 x 3,0 m2. Perkawinan dilaksanakan secara berpasangan dilakukan dalam bak tembok ukuran 1 x 2 m2 dalam ruangan tertutup. Selama proses pematangan diberi pakan sebanyak 3% per hari berupa pellet, dengan frekuensi pemberian 2 – 3 kali per hari.

Pada saat akan dilakukan pemijahan, induk betina yang telah diseleksi dan diperkirakan telah matang gonad dimasukkan kedalam bak pemijahan, sebanyak 3 ekor per bak, seminggu kemudian satu ekor induk jantan dan diamati apakah menyerang dan melukai induk-induk betina atau tidak, bila menyerang maka induk jantan tersebut diangkat kembali untuk dikembalikan ke bak pematangan kemudian digantikan dengan jantan yang lain. Bila tidak ada lagi penyerangan maka pasangan induk tersebut dibiarkan untuk melakukan proses pememijahan secara alami. Selama proses pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari sekali bersamaan dengan pemberian pakan tiga kali per hari. Induk betina yang memijah memperlihatkan tanda-tanda yang khas yang bisa diamati. Ikan nila termasuk ikan yang mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya dalam mulut. Induk betina yang telah memijah di dalam mulutnya terdapat telur sehingga keadaannya selalu mengatup, dan bagian bawah mulutnya membesar. Disamping itu warna tubuh induk betina yang sedang mengerami telur mudah dibedakan dengan yang lainya, bisanya warna tubuhnya memudar, dan garis-garis strip vertikal sepanjang tubuh berwarna hitam sangat konras dengan warna-dasar tubuhnya yang pucat keabu-abuan. Proses pengeraman telur sekitar 3 – 5 hari sampai menjadi larva bisa berenang aktif.

Proses pemanenan larva dilakukan sebelum masing-masing induk betina melepaskan larva dari proses pengeramannya, pada hari ketiga atau keempat. Dari tiga ekor cukup diambil satu induk betina yang memijah, kemudian larvanya dikeluarkan dari dalam mulut untuk selanjutnya dipelihara sementara di dalam aquarium sampai bisa berenang secara aktif (swiming up fry). Masing-masing induk jantan yang telah memijah dan menghasilkan larva lebih dari 100 ekor diberi tanda dengan memberi Tagging (Gambar 3) kemudian dimasukkan kedalam bak pemeliharaan yang terkontrol berupa bak tembok bulat berdiameter 3 m dan tinggi air 0,75 – 1,0 m (Gambar 2). Sedangkan larva yang telah dapat berenang aktif dimasukkan ke dalam hapa ukuran 2 x 2 m2 yang dipasang di kolam untuk proses pendederan sampai berukuran 8 - 12 cm guna pemeriksaan gonad (Gambar 1).

Berbeda dengan pemijahan pada progeny test II, pada progeny test III pemijahan dilakukan secara masal dengan perbandingan induk 1 jantan : 3 betina. Sebagaimana halnya pada progeny test II, sebelum pemijahan atau perkawinan dimulai dua minggu sebelumnya masing-masing induk dimatangan-gonadkan terlebih dahulu secara terpisah dari induk betina dan jantan di dalam bak. Pematangan induk betina dilakukan di dalam bak persegi empat berdimensi 1 x 5 x 1,5 m3 dengan kedalaman air sekitar 1,0 – 1,3 m dengan salah satu dinding berupa kaca. Sedangkan pematangan induk jantan di dalam hapa di kolam. Perkawinan dilaksanakan secara massal dilakukan dalam bak tempat pematangan induk betina. Selama proses pematangan diberi pakan sebanyak 3% per hari berupa pellet, dengan frekuensi pemberian 2 – 3 kali per hari.

Pada saat akan dilakukan pemijahan, induk jantan yang telah diseleksi dan diperkirakan telah matang gonad dimasukkan kedalam bak pemijahan, sebanyak 3 ekor per bak dan dibiarkan untuk melakukan proses pemijahan secara alami. Selama proses pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari sekali bersamaan dengan pemberian pakan tiga kali per hari. Induk betina yang memijah memperlihatkan tanda-tanda yang khas yang bisa diamati. Ikan nila termasuk ikan yang mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya dalam mulut. Induk betina yang telah memijah di dalam mulutnya terdapat telur sehingga keadaannya mudah dikenali. Disamping itu dari warna tubuh induk betina yang sedang mengerami telur mudah dibedakan dengan yang lainya, bisanya warna tubuhnya memudar, dan garis-garis strip vertikal sepanjang tubuh berwarna hitam sangat konras dengan warna-dasar tubuhnya yang pucat keabu-abuan, hal ini hanya dapat diamati bila media airnya jernih. Proses pengeraman telur sekitar 3 – 5 hari sampai menjadi larva bisa berenang aktif.

Proses pemanenan larva dilakukan sebelum masing-masing induk betina melepaskan larva dari proses pengeramannya, pada hari ketiga atau keempat. Dari induk betina yang memijah, kemudian larvanya dikeluarkan dari dalam mulut untuk selanjutnya dipelihara sementara di dalam aquarium sampai bisa berenang secara aktif (swiming up fry). Sedangkan induk betina yang telah memijah dan menghasilkan larva lebih dari 100 ekor diberi tagging (Gambar 3 dan 4) kemudian dimasukkan kedalam bak pemeliharaan yang terkontrol berupa bak persegi berdimensi sama dengan bak pemijahan. Sedangkan larva yang telah dapat berenang aktif dimasukkan ke dalam hapa ukuran 2 x 2 m2 yang dipasang di kolam untuk proses pendederan sampai berukuran 8 - 12 cm guna pemeriksaan gonad (Gambar 1).

Feminisasi tahap II

Feminisasi tahap II pada proses progeny test I ditujukan untuk membuat populasi betina YY. Larva berukuran 0,9 – 13 mm berasal dari hasil pemijahan masing-masing induk betina hasil feminisasi pertama secara individual. Hormone 17 β Estradiol sebanyak 100 mg pakan dilarutkan dengan 10 ml alkohol 90%, lalu diencerkan dengan 300 ml alkohol 70%. Setelah diaduk rata selanjutnya dicampurkan kepada 1,0 kg pellet tepung menggunakan sprayer sambil diaduk-aduk supaya tercampur merata. Pakan yang telah bercampur larutan hormon diangin-anginkan hingga bau alkohol tidak menyengat, sebelum dimasukan kedalam kantong plastik berwarna gelap. Pakan berhormon dalam plastik disimpan dalam lemari pendingin untuk jangka waktu paling lama satu bulan. Selanjutnya pakan berhormon diberikan kepada larva yang dipelihara dalam aquarium selama 30 hari dengan kepadatan 100 ekor larva per aquarium. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 50% bobot biomasa dengan frekuensi pemberian 5 kali per hari. Benih hasil pemeliharan didalam akuarium selanjutnya dibesarkan di dalam hapa dan bak tembok sampai ukuran matang kelamin.

1.
1. Pemasangan Tagging

Penandaan ikan yang telah dipijahkan dilakukan dengan pemasangan Visual Tag (Gambar 3) dengan cara ditempelkan pada bagian belakang sirip punggung menggunakan tali nylon yang ditusukkan kedalam otot 3 sisik ke arah bawah. Sedangkan induk ikan yang telah teridentifikasi sebagai individu YY ditandai dengan Microchip Implant Tag (Gambar 4) yang ditanam kedalam otot ikan pada sisik ketiga di bawah sirip punggung bagian depan.

1. Perbanyakan induk YY

Perbanyakan induk YY ditujukan untuk melipatgandakan populasi induk jantan YY dan induk betina YY. Cara yang dilakukan adalah dengan mengawinkan induk jantan YY dengan induk betina YY hasil verifikasi. Agar tidak terjadi kawin sekerabat, maka induk jantan YY berbeda kerabat dengan induk betina YY.

Proses perbanyakan meliputi pematangan induk YY, pemijahan, feminisasi, pendederan, dan pembesaran. Proses pematangan dan pemijahan dilakukan dalam bak tembok bulat (Gambar 2). Induk jantan YY dan betina YY yang dipergunakan berasal dari kerabat yang berbeda untuk menghindari pengaruh inbreeding. Panen pemijahan berlangsung selama 15 hari dengan cara pemungutan telur yang sedang dierami oleh betina. Penetasan dilakukan didalam media air yang suhunya dipertahankan pada 28oC dalam aquarium ukuran (40×30x30) cm3 selama 3-4 hari. Populasi larva yang telah menetas dibagi menjadi dua sub populasi. Satu sub populasi dipelihara terpisah dalam aquarium sistem resirkulasi dengan perlakuan feminisasi untuk memperbanyak induk betina YY. Sedangkan sub populasi lainnya dipelihara secara normal dalam akuarium ukuran yang sama tetapi bukan pada sistem resirkulasi. Pemeliharaan larva dalam akuarium sampai ukuran 3 – 5 cm, setelah itu dipindahkan kedalam hapa dan bak tembok untuk proses pendederan dan pembesaran sampai ukuran dewasa. Hasil pendederan ikan pada kedua sub populasi disortir berdasarkan ukuran dan dipelihara secara terpisah sampai ukuran dewasa > 100 gram.

1.
1. Uji produksi massal

Produksi masal ditujukan untuk menghasilkan calon induk jantan YY dalam jumlah besar untuk tujuan distribusi. Produksi masal membutuhkan induk betina YY dan jantan YY dalam jumlah banyak yang bukan satu keturunan. Proses produksi masal mliputi, pematangan induk, pemijahan, dan pendederan. Pematangan dilakukan di dalam hapa di kolam, pemijahan dilakukan di kolam tanah, pendederan I dilakukan di aquarium, pendederan II dan III dilakukan di hapa waring.

1.
1. Waktu dan tempat

Progeni test I dilakukan mulai bulan Desember 2002 sampai Agustus 2003, progeny test II dilakukan pada bulan September 2003 sampai Agustus 2004 dan Progeny Test III September 2004 sampai Agustus 2005. Perbanyakan mulai dilakukan sejak bulan Sepetember 2005 sampai Desember 2006. Dan uji coba produksi masal dilakukan pada bulan Juli sampai Desember 2006. Kegiatan Feminisasi tahap I dilaksanakan di IPB, sedangkan kegiatan Progeni test I sampai III, Feminisasi tahap II dan III, perbanyakan dan ujicoba produksi masal dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

1. HASIL DAN PEMBAHASAN

1.
1. Progeny Test I

Pada ulan Juni 2002 diterima calon induk ikan nila hasil feminisasi dari Prof. Komar Sumantadinata sebanyak 59 ekor, kemudian dipelihara di BBPBAT Sukabumi sampai ukuran induk. Pada awal bulan Desember ukurannya sudah menjadi induk tetapi jumlahnya berkurang menjadi 47 ekor.

Hasil pemijahan pada progeny test I hanya 41 ekor yang memijah dan menghasilkan keturunan. Anakan pada setiap individu induk yang dipijahkan dibagi menjadi dua sub populasi satu sub populasi sebanyak 100-600 ekor larva di-feminisasi untuk membuat populasi betina YY, sedangkan satu sub populasi lagi masing-masing sebanyak 87-800 ekor larva dipelihara secara normal didalam hapa sebagai bahan untuk membuat populasi jantan YY .

Hasil benih pembesaran pada progeny test I digunakan untuk verifikasi masing-masing induk betina hasil feminisasi pertama. Berdasarkan hasil identifikasi kelamin secara visual pada turunan hasil progeny test tersebut diperoleh nisbah kelamin. Nisbah kelamin jantan yang mencapai atau mendekati 70% hanya diperoleh pada turunan 5 ekor induk dari total induk yang diprogeny sebanyak 41 ekor.

Proses progeny test I ini membutuhkan waktu yang lama, karen harus memelihara dari ukuran larva sampai ukuran matang kelamin, yaitu ukuran > 50 gram per ekor. Ikan jantan turunan 5 induk XY tersebut selanjutnya dipelihara sampai matang gonad dan disiapkan untuk diverifikasi pada tahap progeny test II untuk mengidentifikasi jnatan YY.

1.
1. Progeny test II

Pada proses pemijahan progeny test II jumlah induk jantan yang diduga mengandung individu Jantan YY sebanyak 52 ekor yang meliputi 39 ekor dari populasi induk dengan kode 2.14; dan 4 ekor dari populasi induk dengan kode 2.13; serta 14 ekor populasi dengan kode 2.6. Jumlah populasi larva yang telah dihasilkan dari masing-masing populasi induk 2.14 sebesar 35.889 ekor dengan rataan hasil larva sekitar 816 ekor per individu induk jantan, dari populasi 2.13 sebesar 838 ekor dengan rataan sebesar 210 ekor per individu induk jantan, dan dari populasi 2.6 sebesar 12.108 ekor dengan rataan 865 ekor per individu induk jantan.

Adapun jumlah induk betina yang digunakan berasal dari satu populasi induk betina normal yang terdiri dari 160 ekor. Namun demikian jumlah induk betina yang mati pada waktu pemijahan mencapai lebih dari 50% ekor.

Pada proses pendederan ini telah dihasilkan dua populasi benih keturunan dari individu masing-masing populasi yang dipelihara didalam hapa di kolam. Populasi benih pertama yang telah dipanen untuk diperiksa gonadnya sebanyak 10.276 ekor dari penebaran larva sebanyak 24.949

Populasi benih pertama ini sebagian besar berasal dari turunan 38 ekor individu jantan populasi induk dengan kode 2.14; dari turunan 14 ekor individu jantan populasi induk dengan kode 2.6; dan dari turunan 4 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.13. Sisanya berupa ppuasi benih kedua masih dalam proses pemeliharaan didalam hapa menunggu proses pemeriksaan gonad yang diperkirakan sebanyak 5000 ekor dari penebaran larva sebanyak 12000 ekor. Populasi benih kedua masing-masing berasal dari turunan 13 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.14 dan dari turunan 2 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.6.

1.
1. Progeny test III

Pada proses pemijahan progeny test III jumlah induk betina yang diduga mengandung individu YY sebanyak dua populasi, yaitu dari populasi 2.6 dan populasi 2.13. Masing-masing terdiri dari 12 ekor dan 13 ekor yang di progeny test.

Jumlah larva yang telah dihasilkan dari masing-masing populasi populasi 2.6 sebesar 8.359 ekor dengan rataan hasil larva sekitar 816 ekor per individu induk jantan, dari populasi 2.13 sebesar 17.237 ekor.

Pada proses pendederan untuk progeny test III dihasilkan dua populasi benih yang dipelihara didalam hapa di kolam. Populasi benih pertama yang telah dipanen untuk diperiksa gonadnya sebanyak 2.876 ekor dari penebaran larva sebanyak 6.208

Populasi benih pertama ini hanya berasal dari turunan 9 ekor individu betina populasi 2.6. Sisanya berupa 16 populasi benih kedua, masih dalam proses pemeliharaan didalam hapa menunggu proses pemeriksaan gonad yang diperkirakan sebanyak 9000 ekor dari penebaran larva sebanyak 19.388 ekor. Populasi benih kedua masing-masing berasal dari turunan 3 ekor individu betina dari populasi induk dengan kode 2.6 dan dari turunan 14 ekor individu betina dari populasi induk dengan kode 2.13.

1.
1. Pemeriksaan gonad progeny test II

Berdasarkan hasil pemeriksaan gonad terhadap benih keturunan populasi benih keturunan 52 individu jantan dari kelompok populasi 2.14; 2.13; dan 2.6, pada progeny test II telah menghasilkan 14 individu jantan YY yang masing-masing terdiri dari 12 ekor berasal dari populasi induk jantan 2.14 dan 2 ekor berasal dari dari populasi induk jantan 2.6.

Pemeriksaan gonad menghasilkan data berupa nisbah kelamin jantan dan betina. Nisbah kelamin turunan Jantan YY berkisar antara 90 – 100% atau dengan rataan sebesar 97,09% ± 3,58. Sedangkan nisbah kelamin jantan normal yang berkromosom XY berkisar antara 40 – 88% dengan rataan 66,08 ± 15,38. Walaupun secara genetis benih keturunan jantan YY terdiri dari 100% jantan, tetapi karena terjadi pembiasan genetik, maka menurut Sumantadinata 2004 (kompri), benih turunan induk jantan YY mempunyai proporsi jantan antara 90 – 100%.

Nisbah kelamin yang bias dari 100% jantan sebagaimana yang diperkirakan oleh hipotesa, dan hanya menghasilkan monosek jantan 97,09% ± 3,58. Penomena yang sama juga juga sesuai dengan hasil penelitian Mair et al. (1991a) yang mendapatkan hanya satu betina dalam turunan salah satu dari empat jantan YY yang diuji progeny. Tetapi Scott et al. (1989), tidak medapatkan betina samasekali dari 285 ekor turunan dari satu ekor individu jantan YY yang disilangkan dengan 10 ekor betina. Hal yang sama juga diperoleh Varadaraj and Pandian (1989) dalam hasil penelitiannya yang tidak menemukan individu betina diantara keturunan betina ‘YY’ females ikan Mujaer O. mossambicus. Pengamatan dalam uji progeny populasi jantan dengan jumlah indidu yang banyak dapat menghasilkan keturunan jantan hasil progeny test lebih dari 95% (Mair et al. 1997). Sebenarnya tidak ada kecendrungan yang jelas dalam kejadian penyimpangan sex ratios yang ditunjukkan oleh adanya segregasi atau pemisahan dari satu autosomal sex yang memodifikasi locus, ini sebagai sebuah dalil saja untuk ikan nila (Hussain et al. 1994) dan Mair et al. 1991b telah membuktikan pada jenis O. aureus.

1.
1. Pemeriksaan Gonad pada progeny test III

Berdasarkan hasil pemeriksaan gonad terhadap benih keturunan populasi benih keturunan 8 individu betina dari kelompok populasi 2.6, pada progeny test III baru menghasilkan 1 ekor individu betina YY dan 2 ekor individu betina XY yang semuanya berasal dari populasi induk betina 2.6.

Pemeriksaan gonad menghasilkan data berupa nisbah kelamin jantan dan betina. Nisbah kelamin turunan betina YY sebesar 98%. Sedangkan nisbah kelamin betina yang berkromosom XY sebesar 71% dan 87%. Seperti halnya pada hasil turunan jantan YY, pembiasan nisbah kelamin dari 100% jantan sebagaimana hipotesa disebabkan karena oleh adanya segregasi atau pemisahan dari satu autosomal sex yang memodifikasi locus sebagaimana halnya telah dialami oleh penelitian sebelumnya.

Individu XY yang diperoleh dapat digunakan untuk menghasilkan kembali individu YY dengan cara disilangkan kembali dengan Jantan YY yang telah dihasilkan. Berdasarkan hypotesa hasil persilangan tersebut akan menghasilkan 100% benih jantan yang terdiri dari 25% jantan yang berkromosom XY dan 75% jantan berkromosom YY. Melalui satu tahap progeny test akan diperoleh individu jantan YY.

1.
1. Perbanyakan induk YY

Keterbatasan jumlah individu YY yang dihasilkan baik induk jantan maupun betina mememrlukan tahap perbanyakan sebelum melakukan produksi massal. Perbanyakan telah dilakukan dengan memijahkan induk jantan hasil progeny test II dengan induk betina YY hasil progeny test III. Sejak bulan Oktober 2005 sampai Mei 2006 telah dilakukan 6 kali pemijahan. Hasil pemijahan I dan II telah dihasilkan induk jantan YY sebanyak 490 dan 768 ekor, masing-masing berukuran antara 150 – 200 gram, dan induk betina YY sebanyak 17 dan 110 ekor, masing-masing berukuran 100 – 150 gram. Pada jantan YY hasil perbanyakan ditemukan individu pseudomale, yaitu individu betina yang alat kelaminnya jantan, masing-masing sebesar 24,36 % dan 28,57%. Penyimpangan ini mungkin disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan pada saat pemeliharaan larva. Kisaran suhu air media pemeliharaan larva yang lebih rendah dari normal, berkisar antara 22 – 23oC, yang mempengaruhi differensiasi sex larva, sehingga terjadi pengarahan kelamin menjadi betina. Temperatur air media pemeliharaan akan mempengaruhi proses biokimia, seperti aktivitas aromatase dan sistesis estradiol (Crews dan Bergeson, 1994; dan Crews 1996). Sekresi estradiol pada ikan mas dapat mencapai 20 kali lipat pada kisaran temperatur rendah (Maning dan Kime 1984). Pada ikan nila peningkatan temperatur dapat menurunkan kandungan estradiol (Kitano et al. 1999).

Perbanyakan selanjutnya tahap III sampai VI telah menghasilkan benih ukuran 12 + 1,8 cm sebanyak 700 ekor, ukuran 3,0 + 0,8 cm sebanyak 2000 ekor, dan ukuran 4,0 + 100 ekor, yang masing-masing dipelihara di dalam bak dan hapa.

1.
1. Uji produksi masal

Induk jantan YY dan induk betina YY yang berbeda generasi dipijahkan secara alami dengan perbandingan 70 ekor jantan dan 90 ekor betina. Pemijahan baru dilaksanakan satu kali dan telah menghasilkan benih berukuran 2-3 cm. Benih tersebut saat ini dipelihara dalam unit resirkulasi dan suhu air dipertahankan pada level 26oC. Benih yang dihasilkan berasal dari hasil penetasan telur yang dipanen dari induk betina yang sedang mengeram. Jumlah induk yang memijah mencapai 32% dari total populasi betina yang dipijahkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1.
1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa:

* Progeny test I untuk verifikasi terhadap populasi betina hasil feminisasi hanya menghasilkan lima ekor induk betina XY.
* Progeny test II untuk verifikasi jantan YY baru dilakukan terhadap 52 ekor individu jantan dari dua kelompok populasi jantan turunan betina XY dan menghasilkan 17 induk jantan YY.
* Progeny test III untuk verifikasi betina YY telah dilakukan terhadap 25 ekor individu induk betina dari dua kelompok populasi betina hasil feminisasi tahap dua turunan betina XY dan menghasilkan 3 ekor induk betina YY.
* Verifikasi induk YY berdasarkan hasil sex ratio anakan yang masing-masing sebesar 97,09 + 3,58% jantan turunan jantan YY dan 98 % jantan untuk turunan betina YY.melalui pemeriksaan jaringan gonad.
* Perbanyakan induk YY telah dilaksanakan dengan 6 kali pemijahan dan telah menghasilkan 1158 ekor jantan YY dan 127 ekor betina YY. Disamping itu ada Pseudomale sebanyak 24,36 % dan 28,57%.
* Uji coba produksi masal baru dilakukan pada 70 ekor jantan YY dan 90 ekor betina YY hasil perbanyakan dan turunannya masih berupa benih jantan YY ukuran 2-3 cm.

1.
1. Saran-saran

* Perlu dilakukan uji coba produksi benih GMT turunan induk jantan YY hasil perbanyakan yang dipasangkan dengan induk betina dari berbagai strain untuk mengetahui efektivitas Induk Jantan YY
* Produksi jantan YY dapat didistribusikan sebagai induk pada saat ukuran benih.
* Sebagai pasangan induk jantan YY perlu dibuat metoda untuk memproduksi benih monosek betina.

1. DAFTAR PUSTAKA

* Abucay, J. S. and Mair, G. C.. In press. Methods of identifying males with YY genotype in Oreochromis niloticus L. In: Proceedings of the Second AADCP International Workshop on Genetics in Aquaculture and Fisheries Management, Phuket, Thailand, Nov. 7-11, 1994.

* Alvendia-Casauay, A. and Carino, V. S. 1988. Gonadal sex differentiation in Oreochromisniloticus. In: ICLARM Conference Proceedings, 15: The Second International Symposium on Tilapia in Aquaculture. Edited by R. S. V. Pullin, T. Bhukaswan , K.Tonguthai, and J. L. Maclean. Department of Fisheries, Thailand and International Center for Living Aquatic Resources Management, Bangkok, Thailand and Manila, Philippines. pp. 121-124.

*
Baroiller, J-F., and Jalabert, B. 1989. Contribution of research in reproductive physiology to the culture of tilapias. Aquat. Living Resour. 2: 105-116.

Crews, D. 1996. Temperature-dependent sex determination: the interplay of steroid hormones and temperature. Zool. Sci. 13: 1 – 13.

*
Crews, D. and J.M. Bergeron. 1994. Role of reductase and aromatase in sex determination in the red-eared slider (Trachemys scripta), a turtle with temperature-dependent sex determination. J. Endocrinol. 143: 279–289.

* Feist, G., C.G. Yeoh, M.S. Fitzpatrick and C.B. Schreck. 1995. The production of functional sex-reversed male rainbow trout with 17α-μετηψλτεστοστερονε ανδ 11b-hydroXYandrostenedione. Aquaculture 131:145–152.

* Fitzpatrick, M.S. and C. Schreck. 1999. Masculinization of tilapia by immersion in trenbolone acetate, pp. 10–13. In Pond Dynamics/Aquaculture Collaborative Research Support Program Ninth Work Plan. Pond Dynamics/Aquaculture CRSP, Oregon State University, Corvallis, Oregon.

* Gale, W.L., M.S. Fitzpatrick, M. Lucero, W.M. Contreras-Sánchez and C.B. Schreck. 1999. Masculinization of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) by immersion in androgens. Aquaculture 178: 349–357.

* Guerrero III, R. D. and Shelton, W. L. 1974. An aceto-carmine squash method of sexing juvenile fishes. Prog. Fish Cult. 36: 56.

* Hussain, M. G., McAndrew, B. J., Penman, D. J. and Sodsuk, P. 1994. Estimate genecentromere recombination frequencies in gynogenetic diploids of Oreochromis niloticus (L.) using allozymes, skin colour and a putative sex-determination locus (SDL-2). In: Genetics and Evolution of Aquatic Organisms. Edited by A. R. Beaumont. Chapman and Hall, London, UK. pp. 502-508.

* Kitano, T., Takamune, K., Kobayashi, T., Nagahama, Y., Abe, S.-I., 1999. Suppression of P450 aromatase gene expression in sex-reversed males produced by rearing genetically female larvae at a high water temperature during a period of sex differentiation in the Japanese flounder (Paralichthys olivaceus). J. Mol. Endocr. 23, 167-176.

* Mair, G.C., Abucay, J.S., Skibinski, D.O.F., Abella, T.A., Beardmore, J.A. 1997 Genetic manipulation of sex ratio for the large scale production of all-male tilapia Oreochromis niloticus L. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 54(2): 396-404.

* Mair, G. C., Abucay, J. S., Beardmore, J. A., and Skibinski, D. O. F. 1995. Growth

* performance trials of genetically male tilapia (GMT) derived from ‘YY’ males in Oreochromis niloticus L.: On-station comparisons with mixed sex and sex reversed male populations. Aquaculture 137: 313-322.

* Mair, G. C., Scott, A., Penman, D. J., Beardmore, J. A., and Skibinski, D. O .F. 1991. Sex determination in the genus Oreochromis I: Sex reversal, gynogenesis, and triploidy in O. niloticus L. Theor. Appl. Genet. 82: 144-152.

* Mair, G. C., Scott, A., Penman, D. J., Skibinski, D. O .F., and Beardmore, J. A.. 1991b. Sex determination in the genus Oreochromis II: Sex reversal, hybridisation, gynogenesis and triploidy in O. aureus Steindachner. Theor. Appl. Genet. 82: 153-160.

* Piferrer, F. and E.M. Donaldson. 1989. Gonad differentiation in coho salmon, Oncorhynchus kisutch, after a single treatment with androgen or estrogen at different stages during ontogenesis. Aquaculture 77: 251–262.

* Scott, A. G., Penman, D. J., Beardmore, J. A., and Skibinski, D .O .F. 1989. The ‘YY’supermale in Oreochromis niloticus (L.) and its potential in aquaculture. Aquaculture 78: 237-251.

* Trombka, D., and Avtalion, R.R. 1993. Sex determination in tilapia - a review. The Israeli Journal of Aquaculture-Bamidgeh 45: 26-37.

* Varadaraj, K., and Pandian, T. J. 1989. First report on production of supermale tilapia by integrating endocrine sex reversal with gynogenetic technique. Curr. Sci. 58: 434-441.

* Yang, Y., Zhang, Z., Lin, K., Wei, Y., Huang, E., Gao, A., Xu, Z., Ke, S., and Wei, J. 1980. Use of three line combination for production of genetic all-male tilapia mossambica. Acta Scientica Sinica. 7: 241-246.

Bahan pemaparan pada seminar Indoaqua 2006 di Jakarta, 3-6 Agustus 2006

Dari : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi 2006

sumber : http://ikanmania.wordpress.com